Lego bukan sekedar mainan, mereka adalah….

Felix
General - 11 November 2025
Article Image

Selama bertahun-tahun, kata lego mungkin identik sebagai mainan anak kecil di pikiran kita. Namun Lego lebih dari sekedar mainan untuk anak kecil. Lego seringkali dimanfaatkan oleh orang dewasa sebagai alat untuk bekerja, membangun, berpikir, mengajar, berimajinasi, dan masih banyak lagi! Lego adalah alat yang dapat digunakan untuk membangun apapun selama kita bisa membayangkannya! 

Dikutip dari situs Lego sendiri, saat membuat Lego Duplo, perusahaan ini memulai proses desain dengan berpikir bagaimana mainan ini dapat mendukung 5 skill tertentu yang meliputi: social skills, cognitive skills, creative skills, physical skills, dan emotional skills.

Dalam LEGO Play Well Study, lebih dari 90% orang tua menyatakan bahwa permainan lego telah berhasil membantu anak-anak mereka untuk mengembngkan kelima skill tersebut. 

Social skills anak berkembang lewat permainan peran (role playing). Misalnya, saat bermain, figur LEGO bisa digambarkan naik bus dan mengobrol dengan sopirnya. Dari situ, anak belajar bekerja sama menyusun cerita dan menyampaikan ide.

Balok LEGO DUPLO yang berwarna-warni dan berbentuk lucu membantu anak mengenal angka dan huruf, sekaligus melatih cognitive skills mereka.

Bermain juga melatih otak karena melibatkan imajinasi. Anak menciptakan cerita, dialog, dan solusi spontan, ini adalah bentuk dari creative skills.

Saat bermain LEGO, anak menyusun, menyeimbangkan, dan membangun. Aktivitas ini melibatkan gerakan tubuh dan membantu perkembangan physical skills.

Tantangan seperti menyusun balok atau berbagi cerita juga melatih emotional skills, karena anak belajar menghadapi frustrasi, mengekspresikan perasaan, dan menjadi lebih tangguh.

Kelima skills tersebut adalah kemampuan yang penting dalam pertumbuhan anak. Diluar skills tersebut, Lego juga terbukti telah menjadi metode yang berguna untuk: 

  • Membantu anak dengan autisme meningkatkan interaksi sosial (dan dianggap bisa lebih efektif dibanding beberapa metode terapi lainnya). LEGO juga bermanfaat bagi kesehatan dan rehabilitasi anak-anak yang dirawat di rumah sakit, serta membantu anak dengan cerebral palsy menunjukkan kemampuan kognitif mereka.
  • LEGO robotics digunakan dalam terapi rehabilitasi kognitif untuk lansia, dan sedang diteliti sebagai alat bantu bagi lansia maupun penyandang tunanetra dalam menjalankan tugas rumah tangga.
  • Di bidang sains, LEGO dimanfaatkan untuk memodelkan jalur biokimia, mensimulasikan sistem saraf, membuat alat untuk mempelajari fisiologi sel dan jaringan, menciptakan lingkungan penelitian untuk tumbuhan dan organisme, mengkalibrasi mesin USG, menguji lensa kamera ponsel, serta meneliti metode pengorganisasian spasial.
  • LEGO juga telah menginspirasi berbagai penemuan, seperti fiber probe untuk mendeteksi agen infeksius, robot jarum mikro untuk pengiriman obat di usus, strategi perancangan dan penemuan obat, hidrogel untuk keperluan medis dan komersial, serta metode forensik untuk menganalisis jejak bahan peledak.
  • Di luar bidang STEM, para seniman juga menggunakan LEGO untuk membuat patung dan lukisan yang dipamerkan di galeri maupun museum (Sondra Bacharach, The Conversations, 2017).

Meski awalnya di-design sebagai wooden toy, Lego terus berkembang hingga menjadi lebih dari sekedar mainan anak. Dalam proses perkembangannya, Lego tidak pernah lepas dari nilai inti mereka yaitu: ‘in the brick’. Bricks ini juga menjadi inti dari LEGO® SERIOUS PLAY® methodology. Tunggu artikel kami yang selanjutnya jika Anda penasaran dengan LEGO® SERIOUS PLAY®! 🤩